Selamat Datang di Dinas Kesehatan Kabupaten Pakpak Bharat.: Visi: MENJADI INSTITUSI YANG MENJADIKAN MASYARAKAT PAKPAK BHARAT SEHAT DAN MANDIRI 2015
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Tahun 2012 ini, sebanyak 8.000 jiwa masyarakat Pakpak Bharat ter-cover kesehatannya melalui Jamkesda "Njuah Karina".

Written By p2pldinkespakpakbharat on Selasa, 21 Februari 2012 | 03.19

Tahun 2012 ini, sebanyak 8.000 jiwa masyarakat Pakpak Bharat ter-cover kesehatannya melalui Jamkesda "Njuah Karina". Hal itu dibuktikan adanya penandatanganan perjanjian bersama Pemerintah Kabupaten Pakpak Bharat dengan PT Askes (Persero) Cabang Kabanjahe, pekan lalu di ruang rapat Bupati Pakpak Bharat. Di hadapan Wakil Bupati, Sekda, Asisten, Staf Ahli, Kepala Dinas Kesehatan beserta pimpinan SKPD, Bupati Pakpak Bharat, Remigo Yolando Berutu menandatangani   perjanjian bersama Kepala PT. Askes (Persero) Cabang Kabanjahe, dr Zoni Anwar Tanjung, untuk pemeliharaan kesehatan masyarakat umum Kabupaten Pakpak Bharat tahun 2012.

Ini sebagai bukti nyata bahwa Pemda sangat peduli terhadap jaminan kesehatan  masyarakat umum Kabupaten Pakpak Bharat di luar program Jamkesmas, PNS/Pensiun/Veteran dan Perintis Kemerdekaan yang sudah ditanggung pemerintah.  Hal itu juga salah satu upaya mewujudkan visi dan misi Kabupaten PakPak Bharat yaitu “Mewujudkan Masyarakat yang Sehat melalui Peningkatan Kualitas Pelayanan Kesehatan serta Peningkatan Sarana Prasarana Kesehatan”.
Bupati Pakpak Bharat, Remigo Yolando Berutu menyampaikan terima kasih atas terealisasinya perjanjian kerja sama tersebut. Pembiayaan Program Jaminan Kesehatan Masyarakat Umum (PJKMU) tahun 2012, sepenuhnya  masuk dalam APBD tahun 2012.

Remigo juga berharap agar sosialisasi dilakukan  sampai ke tingkat desa sehingga demikian peserta memahami dan mengerti prosedur untuk mendapatkan pelayanan di puskesmas maupun di Rumah Sakit yang bekerjasama dengan PT Askes (Persero) Cabang Kabanjahe.

Sementara Kepala PT Askes (Persero) Cabang Kabanjahe, dr Zoni Anwar Tanjung menyampaikan terima kasih atas kepercayaan Pemda Pakpak Bharat kepada PT Askes (Persero) Cabang Kabanjahe di mana kepercayaan ini dimulai tahun 2010 dengan jumlah peserta 2.200 jiwa , tahun 2011 jumlah peserta 6.200 jiwa dan tahun 2012 jumlah peserta 8.000 jiwa.

Cakupan program tahun ini diberikan mulai dari rawat jalan tingkat pertama di Puskesmas  sampai pelayanan  rawat inap di RSUD Salak, RSUD Sidikalang, RSUD Kabajahe dan Rumah Sakit Umum Pirngadi Medan sebagai rumah sakit pelayanan rujukan.

Sumber : Medan Bisnis

PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN BAGI PENDERITA TBC

Written By p2pldinkespakpakbharat on Rabu, 01 Februari 2012 | 20.18


Indonesia berada pada urutan ke tiga penyumbang kasusu Tuberkulosis di dunia. Pada tahun 2005 tercatat sekitar 533.000 kasus, prevalensi kasus tuberkulosis Nasional pada tahun 2005 sebesar 626 per 100.000 penduduk. Prevalensi Propinsi Sumatera Utara 160 per 100.000 penduduk. Pada tahun 1999 telah telah dicanangkan Gerakan Nasional Terpadu Pemberantasan Tuberkulosis (GERDUNAS) untuk mempromosikan percepatan pemberantasan tuberkulosis dengan pendekatan integratif, mencakup rumah sakit dan sektor swasta dan semua pengambil kebijakan lain, termasuk penderita dan masyarakat.
Dalam komitmen global atau sering juga disebut Mellennium Development Goals Program Pemberantasan Penyakit menular (HIV, AIDS, Malaria dan TB Paru) merupakan idokator penting dalam pencapaian MDGs. Tantangan yang dihadapi dalam pemberantasan TB adalah :
1. Cara membangun komitmen Pemerintah dan masyarakat,
2. Melakukan diagnosis akurat dengan pemeriksaan mikroskopis,
3. Kesesuaian Directly Observed Treatment Success Rate (DOTS ),
4. Menjaga ketersediaan obat yang tidak terputus, dan
5. Membangun system pelaporan dan pencatatan.
Untuk mewujudkan terlaksananya program pemberantasan TB maka kelima komponen penting tersebut diatas harus tersedia dan terlaksana dengan baik.
Strategi DOTS adalah strategi yang direkomendasikan oleh WHO serta telah terbukti yang paling cost efektif dalam penanggulangan Tuberkulosis dengan lima komponen yang saling sinergis dalam strategi ini. Di Kabupaten Pakpak Bharat Program Pengendalian Penyakit TB melalui strategi DOTS telah dilaksanakan di seluruh Puskesmas dan Rumah Sakit Umum Daerah. Jumlah UPK di Kabupaten Pakpak Bharat yang melaksanakan Pengendalian Penyakit TB dengan strategi DOTS sebanyak 8 Puskesmas ditambah 1 RSUD.
Pada tahun 2011 Dinas Kesehatan melalui bidang P2P telah menunjukkan komitmen secara program untuk pengendalian penyakit TBC di Kabupaten Pakpak Bharat melalui program pemberian makanan tambahan (susu dan multi vitamin) kepada penderita TBC. Pemberian makanan tambahan ini bertujuan untuk mendukung proses penyambuhan pasien yang mengkonsumsi AOT (Obat Anti TBC) yang masuk dalam kategori obat keras sehingga dibutuhkan asupan gizi yang cukup kepada pasien TBC yang mengkonsumsi OAT.

Salam Sehat.. Njuah-Njuah banta karina.

FOGGING SARANG NYAMUK DALAM RANGKA PENGENDALIAN DEMAM CHIKUNGUNYA

Written By p2pldinkespakpakbharat on Minggu, 15 Januari 2012 | 17.41

Pelaksanaan Pengasapan (Fogging) dalam rangka menekan penyebaran Demam Chikungunya yang disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes Aegypti. Sepannjang tahun 2011 Dinas Kesehatan Melalui Seksi P2 (Pengendalian Penyakit) telah melaksanakan fogging di tiga desa pada tiga kecamatan, yaitu Desa Mbinalun (Kec STU Jehe), Desa Kuta Babo (Kec Tinada) dan Desa Siempat Rube II (Kec Siempat Rube). Dipilihnya desa tersebut untuk dilaksanakan fogging adalah berdasarkan laporan jumlah kasus kejadian demam Chikungunya pada tiga Desa tersebut. Adapun keggiatan fogging bersumber dari dana APBD Kab Pakpak Bharat Tahun 2011, dimana dalam pelaksanaannya kegiatan fogging dilapangan secara teknis Dinas Kesehatan bekerja sama dengan Puskesmas, Camat dan Kepala Desa sehingga pelaksanaan fogging dapat berjalan dengan baik dan masyarakat pada tiga desa tersebut mengharapkan kegiatan ini dapat dilaksanakan untuk Tahun Anggaran yang akan datang, sehingga penyebaran Demam Chikungunya yang disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti dapat dicegah penularannya.

STOP BABS (Buang Air Besar Sembarangan)

Written By p2pldinkespakpakbharat on Selasa, 19 Juli 2011 | 20.58


Setelah menempuh perjalanan lebih kurang 45 menit dengan melewati medan jalan yang sangat menantang akhirnya team pengamat dari Dinas Kesehatan Propinsi dan team fasilitator dari Dinas Kesehatan Kabupaten Pakpak Bharat yang di pimpin oleh Demak Nella, SKM tiba di Desa Kuta Babo Kecamata Tinada. Saat itu waktu menunjukkan pukul 13.00 wib, rasa lapar dan lelah selama dalam perjalanan langusng hilang meihat antusiasme masyarakta yang setia menunggu kehadiran tema di Desa mereka.
Setelah makan sinag, maka acara pun dimulai dengan perkenalan singkat yang dibawakan oleh sdr John Hery Sinaga. Dengan kepiawaiannya berbahasa daerah menjadi mempermudah masyarakta Desa Kuta Babo memahami maksud dan tujuan kedatang team CLTS (Community Leader Total Sanitasi) ke Desa mereka.
Peranserta masyarakat selama kegiatan berlangsung sangat terlihat jelas, hal itu ditandai dengan keseriusan masyarakata mengikuti proses. Langkah pertama adalah pencairan suasana, sehingga tidak ada kesenjangan antara masyarakat dengan team yang hadir. Langka kedua adalah masyarakat mulai diajak oleh fasilitator untuk membuat gambaran wilayah desa, dilanjutkan dengan mengidentifikasi kebiasan-kebiasan masyarakta yang hadir tentang perilaku mereka Buang Air Besar.
Dari 35 orang masyarakat yang hadir pada pertemuan CLTS diperoleh 9 orang yang tidak memiliki jamban. Setelah berdiskusi dan menggali informasi dari masyarakta yang memiliki dan tidak memiliki jamban, akhirnya masrakat yang belum memiliki jamban berhasil untuk dilakukan "pemicuan" terhadap rasa jijik, rasa malu, rasa takut sakit, rasa berdosa, dan rasa tanggung jawab berkaitan dengan kebiasaan BAB di sembarang tempat. Dari hasil pertemuan fasilitator berhasil memotifasi dan masyarakat berkomitmen untuk segera mendirikan jamban guna menghidarkan kebiasaan BAB sembarangan. Semoga saja apa yang sudah disepakati dapat tercapai, semoga Desa Kuta Babo bebas BABS (Buang Air Besar Sembarangan) S E M O G A,.....!

TBC MASALAH KESEHATAN DUNIA

Written By p2pldinkespakpakbharat on Rabu, 06 Juli 2011 | 21.23


Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang masih menjadi perhatian dunia. Hingga saat ini, belum ada satu negara pun yang bebas TB. Angka kematian dan kesakitan akibat kuman Mycobacterium tuberculosis ini pun tinggi. Tahun 2009, 1,7 juta orang meninggal karena TB (600.000 diantaranya perempuan) sementara ada 9,4 juta kasus baru TB (3,3 juta diantaranya perempuan). Sepertiga dari populasi dunia sudah tertular dengan TB dimana sebagian besar penderita TB adalah usia produktif (15-55 tahun). Demikian penjelasan Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama pada acara temu media di kantor Kemkes, 18 Februari. Acara ini dilakukan sebagai rangkaian Hari TB Sedunia (HTBS) yang diperingati setiap tanggal 24 Maret. Tema Global HTBS adalah On the Move Against Tuberculosis, Transforming the Fight Towards Elimination. Sementara tema Nasional HTBS adalah Terobosan Melawan Tuberkulosis menuju Indonesia Bebas TB.

Menurut Prof. Tjandra Yoga, sedikitnya ada 3 faktor yang menyebabkan tingginya kasus TB di Indonesia. Waktu pengobatan TB yang relatif lama (6 – 8 bulan) menjadi penyebab penderita TB sulit sembuh karena pasien TB berhenti berobat (drop) setelah merasa sehat meski proses pengobatan belum selesai. Selain itu, masalah TB diperberat dengan adanya peningkatan infeksi HIV/AIDS yang berkembang cepat dan munculnya permasalahan TB-MDR (Multi Drugs Resistant=kebal terhadap bermacam obat). Masalah lain adalah adanya penderita TB laten, dimana penderita tidak sakit namun akibat daya tahan tubuh menurun, penyakit TB akan muncul.

Penyakit TB juga berkaitan dengan economic lost yaitu kehilangan pendapatan rumah tangga
Menurut WHO, seseorang yang menderita TB diperkirakan akan kehilangan pendapatan rumah tangganya sekitar 3 – 4 bulan. Bila meninggal akan kehilangan pendapatan rumah tangganya sekitar15tahun.

“Dari sini dapat dihitung kerugian ekonomi yang diakibatkan oleh TB. TB sangat erat dengan program pengentasan kemiskinan. Orang yang miskin akan menyebabkan kekurangan gizi dan penurunan daya tahan tubuh sehingga rentan tertular dan sakit TB, begitu sebaliknya orang terkena TB akan mengurangi pendapatannya,” ujar Prof. Tjandra.

Dunia telah menempatkan TB sebagai salah satu indikator keberhasilan pencapaian MDGs. Secara umum ada 4 indikator yang diukur, yaitu Prevalensi, Mortalitas, Penemuan kasus dan Keberhasilan pengobatan. Dari ke-4 indikator tersebut 3 indikator sudah dicapai oleh Indonesia, angka kematian yang harus turun separuhnya pada tahun 2015 dibandingkan dengan data dasar (baseline data) tahun 1990, dari 92/100.000 penduduk menjadi 46/100.000 penduduk. Indonesia telah mencapai angka 39/100.000 penduduk pada tahun 2009. Angka Penemuan kasus (case detection rate) kasus TB BTA positif mencapai lebih 70%. Indonesia telah mencapai angka 73,1% pada tahun 2009 dan mencapai 77,3% pada tahun 2010. Angka ini akan terus ditingkatkan agar mencapai 90% pada tahun 2015 sesuai target RJPMN. Angka keberhasilan pengobatan (success rate) telah mencapai lebih dari 85%, yaitu 91% pada tahun 2009.

Berdasarkan laporan WHO dalam Global Report 2009, pada tahun 2008 Indonesia berada pada peringkat 5 dunia penderita TB terbanyak setelah India, China, Afrika Selatan dan Nigeria. Peringkat ini turun dibandingkan tahun 2007 yang menempatkan Indonesia pada posisi ke-3 kasus TB terbanyak setelah India dan China.

Menurut Prof. Tjandra Yoga, Program TB Nasional telah mencapai target dunia sejak tahun 2005 dengan penemuan kasus TB BTA (Basil Tahan Asam) positif sekitar 70% dan mencapai keberhasilan pengobatan lebih dari 85% bahkan sejak tahun 2000. Penemuan dengan lebih dari 70% dan keberhasilan pengobatan >85% secara berurut lebih dari 5 tahun akan menurunkan prevalensi dan penurunan insidens.

Strategi nasional pengendalian TB telah sejalan dengan petunjuk internasional (WHO DOTS dan strategi baru Stop TB), serta konsisten dengan Rencana Global Penanggulangan TB yang diarahkan untuk mencapai Target Global TB 2005 dan Tujuan Pembangunan Milenium 2015.

Strategi yang direkomendasikan untuk mengendalikan TB (DOTS = Directly Observed Treatment Shortcourse) terdiri dari 5 komponen yaitu komitmen pemerintah untuk mempertahankan control terhadap TB; deteksi kasus TB di antara orang-orang yang memiliki gejala-gejala melalui pemeriksaan dahak; pengobatan teratur selama 6-8 bulan yang diawasi; persediaan obat TB yang rutin dan tidak terputus; dan sistem laporan untuk monitoring dan evaluasi perkembangan pengobatan dan program.

Selain itu, rencana global penanggulangan TB didukung oleh 6 komponen dari Strategi Penanggulangan TB baru yang dikembangkan WHO, yaitu mengejar peningkatan dan perluasan DOTS yang berkualitas tinggi, menangani kasus ko-infeksi TB-HIV, kekebalan ganda terhadap obat anti TB dan tantangan lainnya, berkontribusi dalam penguatan sistem kesehatan, menyamakan persepsi semua penyedia pelayanan, memberdayakan pasien TB dan masyarakat serta mewujudkan dan mempromosikan penelitian

DOTS sangat penting untuk penanggulangan TB selama lebih dari satu dekade, dan tetap menjadi komponen utama dalam strategi penanggulangan TB yang terus diperluas, termasuk pengelolaan kasus kekebalan obat anti TB, TB terkait HIV, penguatan sistem kesehatan, keterlibatan seluruh penyedia layanan kesehatan dan masyarakat, serta promosi penelitian.

Pada peringatan HTBS 2011 dilaksanakan beberapa acara diantaranya Kongres Nasional TB tanggal 25-26 Maret 2011, Pameran Kesehatan dan Bazar Kelompok Masyarakat Peduli TB, dan Senam Akbar di Monas tanggal 27 Maret 2011. Sementara Acara Puncak Peringatan HTBS, tanggal 24 Maret 2011 diselenggarakan di Istana Wakil Presiden.

Sumber:KEMENKES RI (www.penyakitmenular.info)

PENGENALAN DINI RABIES

Written By p2pldinkespakpakbharat on Selasa, 05 April 2011 | 19.49


Rabies adalah penyakit menular yang mematikan yang disebabkan oleh virus dan berakibat fatal / kematian. Tersebar di seluruh dunia terutama di Negara berkembang, di Indonesia sejak dilaporkan oleh Schrool pada seekor kuda tahun 1884, dan pada manusia dilaporkan pertama kali oleh E. V. De Haan tahun 1884.
Rabies / penyakit anjing gila adalah merupakan penyakit Zoonosa, penting untuk diketahui di Indonesia, karena : (a).luasnya daerah penyebaran rabies,
(b). banyaknya kasus gigitan hewan tersangka atau menderita rabies, (c). selalu diakhiri dengan kematian.
Jadi case fatality rabies adalah tertinggi dari seluruh penyakit infeksi yang ada.
Virus rabies dapat menginfeksi semua hewan berdarah panas, juga manusia dan burung.
Penularannya melalui gigitan dari berbagai hewan reservoir, misalnya : anjing, kucing, srigala, kelelawar dll. Di Asia Anjing sebagai reservoir utama dalam penularan rabies.
Pencegahan :
- Hindari gigitan binatang
- Bila terlanjur digigit binatang tersangka rabies maka dilakukan usaha mematikan/mengurangi virus rabies dengan : Mencuci luka gigitan dengan air mengalir dan sabun atau diterjen selama 10 – 15 menit kemudian deberi antiseptic.

Sosialisasi Antisipasi Penyebaran Penyakit Deman Chikungnya Kab Pakpak Bharat

Written By p2pldinkespakpakbharat on Senin, 28 Februari 2011 | 22.33


Salak, 18 November 2010

Pelaksanaan kegiatan sosialisasi untuk mengantisipasi penyebaran demam chikungunya yang dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Kab Pakpak Bharat bertujuan untuk menghindari kejadian demam Chikungunya di masyarakat. Kegiatan yang dilaksanakan di gedung serba ini bersumber dari dana APBD tahun 2010, mengundang para Kepala Desa, Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama dan petugas kesehatan dari seluruh kecamatan. Hadir sebagai narasumber pada kegiatan ini adalah Teguh Supriadi SKM MPH dari Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera utara, yang menyampaikan bahwa langka utama yang terpenting dalam penanganan penyebaran penyakit Chikungunya adalah kerja sama lintas sektoral dengan melakukan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) dan menjaga kebersihan lingkungan. Peria yang sehari-hari bertugas sebagai Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang (P2B2) di Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera Utara ini juga menyampaikan bahwa kurun waktu tahun 2009 - 2010 di Kabupaten Pakpak Bharat tidak ditemukan kasus Demam Chikungunya.
Dalam sesi terakhir Teguh juga menyampaikan kepada peserta bahwa demam Chikungunya memiliki gejala klinis yang hampir sama dengan DBD (Demam Berdarah Dengue), sehingga pesrta yang hadir pada kegiatan sosialisasi ini diharapkan menjadi pemantau langusng ditengah masyarakat dan jika ditemukan kejadian demam Chikungunya/DBD masyarakat segera berobat ke Puskesmas terdekat.

Foto by; P2PL Team

Translate


PNS DINKES PAKPAK BHARAT

PNS DINKES PAKPAK BHARAT
Foto bersama seluruh PNS Dinkes

Pelaksanaan Fogging di Desa Mbinalun

Pelaksanaan Fogging di Desa Mbinalun
Masyarakat dan Petugas Fogging foto bersama setelah pelaksanaan fogging

Galeri Kegiatan

Galeri Kegiatan
Penyerahan Kartu Askes Njuah Karina oleh Buapati Pakpak Bharat
 
Copyright © 2011. DINAS KESEHATAN KAB PAKPAK BHARAT . All Rights Reserved.